Naskah Aksara Batak 95 Persen di Luar Negeri

0
98

Peneliti dari Universitas Hawaii, Prof. Dr. Uli Kozok, MA, mengatakan, sebagian besar atau sekitar
95 persen naskah aksara Batak dewasa ini berada di luar negeri. Hanya lima persen naskah
aksara Batak yang ada di dalam negeri, ujarnya ketika melakukan persentasi sistem komputerisasi
aksara Batak Toba, di Medan, Sabtu. Menurut dia, di Belanda diperkirakan terdapat sekitar 1.000
naskah aksara Batak, kemudian Jerman 500 naskah, Inggris 100 naskah, Denmark 60 naskah dan
sisanya di beberapa negara lain. “Belanda dan Jerman itu merupakan tempat koleksi terbesar
aksara Batak, kemudian di Austria saya pernah melihat beberapa naskah baca, di Prancis juga
ada,” ujarnya. Dia mengatakan, kesemua naskah Batak itu tersimpan dengan rapi di museummuseum negara Eropa dan telah menjadi milik sah negara itu meski naskah tersebut berasal dari
Sumut. Perpindahan aksara Batak itu terjadi ketika zaman penjajahan Belanda, dimana para
misionaris dari Jerman di tanah Batak dan para pegawai pada enam perusahaan Tembakau Deli di
Pantai Timur Sumut membawa naskah itu ketika kembali ke negaranya. “Itu mereka beli dari
penduduk karena mereka tahu yang namanya naskah itu adalah sesuatu yang berharga. Seperti di
Eropa ada tradisi naskah yang berusia ratusan tahun itu sangat berharga,” ujarnya. Diperkirakan
naskah aksara Batak tertua, kata dia, berusia sekitar 300 tahun dan setelah meletusnya perang
dunia pertama sekitar tahun 1920-an naskah Batak tidak diproduksi lagi karena suku Batak telah
beralih ke huruf latin. Dalam naskah Batak masih banyak ilmu yang masih tersembunyi seperti
sastra, anthropologi, obat-obatan dan sebagainya. “Naskah Batak itu masih menyimpan ilmu yang
tersembunyi dan belum dipelajari seperti bagaimana orang Batak meresap unsur agama seperti
Budha dan Islam. Tapi sayangnya kita harus ke luar negeri untuk mempelajari naskah itu,”
katanya.(*)

Baca Juga :  Aksara Mandailing Menyebar ke Toba

Sumber dari : antaranews.com