Tersangka Kasus Dugaan Penipuan Gugat Kapolri dan Kabareskrim

0
97

Jakarta – Tjipta Fudjiarta, pengusaha Medan mengajukan gugatan praperadilan terhadap Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti dan Kabareskrim Komjen Pol Anang Iskandar atas penetapan status tersangka terhadap dirinya. Ini terkait kasus dugaan penipuan dan pemberian keterangan palsu dalam jual-beli saham Hotel BCC Batam.

Dalam berkas gugatannya, Tjipta melalui kuasa hukumnya Trisno Raharjo, Topan Meiza Romadhon, Chairul Armand dan Nur Herlina memohon kepada hakim praperadilan agar segala keputusan atau penetapan yang dikeluarkan termohon, dalam hal ini Mabes Polri, yang berkaitan dengan penetapan tersangka terhadap diri pemohon (Tjipta Fudjiarta), tidak sah.

Selanjutnya, Tjipta Fudjiarta melalui kuasa hukumnya, meminta pengadilan menghukum termohon untuk mengganti kerugian material sebesar Rp 50 miliar dan kerugian immaterial sebesar Rp 100 miliar secara tunai dan sekaligus sejak putusan diucapkan.

Adanya tuntutan RP 150 miliar yang diajukan Tjipta, dibenarkan oleh Alfonso Napitupulu, kuasa hukum Conti Chandra yang menjadi korban penipuan saham tersebut. “Yang saya tahu dalam berkas gugatan yang diajukan pihak kuasa hukum Tjipta, ada tuntutan Rp 150 miliar,” kata Alfonso.

Tuntutan Rp 150 miliar tersebut menurut Alfonso ada pada dua halaman terakhir berkas gugatan yang diajukan kuasa hukum Tjipta.

Saat ditemui usai sidang praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kuasa hukum Tjipta, Trisno Raharjo, membenarkan adanya gugatan Rp 150 miliar tersebut. “Ada angka-angkanya,” kata Trisno.

Sedangkan saat ditanya tentang nilai gugatan hingga Rp 150 miliar tersebut, Kuasa hukum Mabes Polri, Binsan Simorangkir mengatakan tidak tahu. Demikian juga saat ditanya apakah wajar untuk gugatan praperadilan, dicantumkan ganti kerugian hingga Rp 150 miliar, Binsan tetap enggan menjawab. “Sebaiknya tanyakan pada hakim,” kata Binsan.

Baca Juga :  Pria yang Ditembak di Cipadung Adalah Pengedar Ganja

Sidang praperadilan yang diajukan Tjipta sendiri tergolong unik, karena dalam kasus yang sama, terjadi dua kali pengajuan praperadilan. Pertama, praperadilan diajukan pihak korban, Conti Chandra, yang tidak terima kasus dihentikan penyidikannya oleh Bareskrim, dan sekarang Tjipta mengajukan praperadilan atas penetapan statusnya sebagai tersangka. Jadi baru kali ini, dalam kasus yang sama, terjadi dua kali praperadilan.

Sumber: BeritaSatu.com